Istilah
energi tentu tidak asing lagi dalam ilmu fisika. Energi sering kita kenal
dengan istilah tenaga. Energi merupakan kemampuan untuk melakukan usaha. Bisa
juga dikatakan, energi adalah usaha yang masih tersimpan. Jika energi tersebut
di keluarkan, maka energi tersebut berubah menjadi usaha.
Matahari
memancarkan cahaya ke bumi dan setelah sampai di bumi energi matahari dapat
diubah menjadi berbagai bentuk energi yang lain, seperti energi cahaya, energi
kalor, energi kimia, atau energi listrik. Energi matahari dihasilkan dari reaksi fusi
atau penggabungan inti hidrogen sehingga dihasilkan helium dan energi.
Dengan kata lain manusia tidak dapat menciptakan bentuk energi melainkan hanya mampu mengubah bentuk energi.
Hukum kekekalan energi oleh Lavoisier disebutkan bahwa: "Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan melainkan hanya dapat berubah bentuk dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lain."
Bagaimana dengan kehidupan kita??
Dengan kata lain manusia tidak dapat menciptakan bentuk energi melainkan hanya mampu mengubah bentuk energi.
Hukum kekekalan energi oleh Lavoisier disebutkan bahwa: "Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan melainkan hanya dapat berubah bentuk dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lain."
Bagaimana dengan kehidupan kita??
Kali
ini saya akan sedikit mengaitkan hukum kekekalan energi dengan hal yang disebut
“hukum karma”.
Hukum
karma adalah hukum “sebab – akibat”. Apa yang terjadi pada kita sekarang
merupakan akibat apa yang kita lakukan sebelumnya. Sesuai dengan hukum
kekekalan energi, apa yang kita keluarkan akan kita dapatkan kembali, apa yang
kita dapatkan akan diambil lagi dari kita. Tentunya dalam jumlah yang sama.
Tapi, karena saya seorang muslimah, sebenarnya saya tidak boleh mengatakan hal
demikian sebagai hukum karma.
Karma
merupakan ajaran agama dharma (Budha). Karma berasal dari bahasa sanskerta,
yang artinya “perbuatan”. Karma yang baik diberi pahala dan yang buruk mendapat
dosa dan akan menjelma dalam bentuk binatang. Ajaran Budha percaya, bahwa
manusia setelah mati akan dilahirkan kembali. Apa yang terjadi pada kehidupan kita
saat ini merupakan buah dari perbuatan kita di kehidupan masa lalu sebelum kita
dilahirkan.
Dalam
islam tidak mengenal hukum karma dan reinkarnasi. Namun demikian, hukum
kekekalan energi masih tetap berlaku. Sebagaimana yang disebutkan Alloh dalam
Al-Quran surat Alzalzalah 7-8 “barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zahrah
pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa mengerjakan
kejahatan seberat zahrah pun niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.
Perbuatan baik maupun buruk sekecil apapun akan mendapatkan balasan yang
setimpal di akhirat kelak. Apakah balasan tersebut hanya di akhirat?? Lalu
bagaimana dengan yang kita lihat atau kita rasakan sendiri, jika kita menyakiti
seseorang kita juga akan mendapatkan kesakitan yang sama?? Apakah itu bukan
berarti balasan??
Kalo
yang seperti ini dalam Islam disebut dengan Kifarah. Kifarah yaitu balasan
Alloh di dunia akibat dosa yang kita lakukan, tanpa menunggu kita mati. Alloh
tidak akan membiarkan orang yang berlaku dzolim terhadap orang lain. Apalagi
jika kita mendzolimi orang tua kita, akan dibalas kontan di dunia. Itu pasti.
Jika
kita tertimpa kesusahan atau kesedihan di dunia, bisa jadi hal tersebut adalah
Ujian, Peringatan, atau Hukuman (Kifarah). Jika kita melakukan segala
perintahnya dan menjahui segala larangannya, namuan Allloh memberikan
kesusahan, hal itu merupakan ujian untuk menaikkan kelas (derajat) kita. Jika
kita mulai lalai atas perintah Alloh dan mulai melakukan hal – hal yang buruk,
Alloh juga akan memberikan kesusahan sebagai peringatan bagi kita. Dan hukuman
akan kita peroleh jika tiada kebaikan pun yang kita lakukan dan ingkar atas
perintah serta larangannya.
Terlepas
dari apakah itu di dunia atau di akhirat, hukum kekekalan energi setara dengan
hukum kekekalan perbuatan. Entah orang Budha menyebutnya karma dan orang islam
menyebutnya kifarah, yang jelas konsep yang satu ini sama “Segala bentuk
perbuatan baik maupun buruk akan mendapatkan balasan yang setimpal”. Entah itu
ujian, peringatan, maupun hukuman (kafarah) yang kita dapatkan, kita harus
senantiasa sabar dan ikhlas menerima serta harus berusaha menjadi hamba Tuhan
yang lebih baik.
Wa’allohu
A’lam :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar