Jumat, 14 Maret 2014

HUKUM KEKELALAN ENERGI = HUKUM KARMA





Istilah energi tentu tidak asing lagi dalam ilmu fisika. Energi sering kita kenal dengan istilah tenaga. Energi merupakan kemampuan untuk melakukan usaha. Bisa juga dikatakan, energi adalah usaha yang masih tersimpan. Jika energi tersebut di keluarkan, maka energi tersebut berubah menjadi usaha.
Matahari memancarkan cahaya ke bumi dan setelah sampai di bumi energi matahari dapat diubah menjadi berbagai bentuk energi yang lain, seperti energi cahaya, energi kalor, energi kimia, atau energi listrik.  Energi matahari dihasilkan dari reaksi fusi atau penggabungan inti hidrogen sehingga dihasilkan helium dan energi.
Dengan kata lain manusia tidak dapat menciptakan bentuk energi melainkan hanya mampu mengubah bentuk energi.
Hukum kekekalan energi oleh Lavoisier disebutkan bahwa: "Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan melainkan hanya dapat berubah bentuk dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lain."
Bagaimana dengan kehidupan kita??
Kali ini saya akan sedikit mengaitkan hukum kekekalan energi dengan hal yang disebut “hukum karma”.
Hukum karma adalah hukum “sebab – akibat”. Apa yang terjadi pada kita sekarang merupakan akibat apa yang kita lakukan sebelumnya. Sesuai dengan hukum kekekalan energi, apa yang kita keluarkan akan kita dapatkan kembali, apa yang kita dapatkan akan diambil lagi dari kita. Tentunya dalam jumlah yang sama. Tapi, karena saya seorang muslimah, sebenarnya saya tidak boleh mengatakan hal demikian sebagai hukum karma.
Karma merupakan ajaran agama dharma (Budha). Karma berasal dari bahasa sanskerta, yang artinya “perbuatan”. Karma yang baik diberi pahala dan yang buruk mendapat dosa dan akan menjelma dalam bentuk binatang. Ajaran Budha percaya, bahwa manusia setelah mati akan dilahirkan kembali. Apa yang terjadi pada kehidupan kita saat ini merupakan buah dari perbuatan kita di kehidupan masa lalu sebelum kita dilahirkan.
Dalam islam tidak mengenal hukum karma dan reinkarnasi. Namun demikian, hukum kekekalan energi masih tetap berlaku. Sebagaimana yang disebutkan Alloh dalam Al-Quran surat Alzalzalah 7-8 “barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zahrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zahrah pun niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. Perbuatan baik maupun buruk sekecil apapun akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat kelak. Apakah balasan tersebut hanya di akhirat?? Lalu bagaimana dengan yang kita lihat atau kita rasakan sendiri, jika kita menyakiti seseorang kita juga akan mendapatkan kesakitan yang sama?? Apakah itu bukan berarti balasan??
Kalo yang seperti ini dalam Islam disebut dengan Kifarah. Kifarah yaitu balasan Alloh di dunia akibat dosa yang kita lakukan, tanpa menunggu kita mati. Alloh tidak akan membiarkan orang yang berlaku dzolim terhadap orang lain. Apalagi jika kita mendzolimi orang tua kita, akan dibalas kontan di dunia. Itu pasti.
Jika kita tertimpa kesusahan atau kesedihan di dunia, bisa jadi hal tersebut adalah Ujian, Peringatan, atau Hukuman (Kifarah). Jika kita melakukan segala perintahnya dan menjahui segala larangannya, namuan Allloh memberikan kesusahan, hal itu merupakan ujian untuk menaikkan kelas (derajat) kita. Jika kita mulai lalai atas perintah Alloh dan mulai melakukan hal – hal yang buruk, Alloh juga akan memberikan kesusahan sebagai peringatan bagi kita. Dan hukuman akan kita peroleh jika tiada kebaikan pun yang kita lakukan dan ingkar atas perintah serta larangannya.
Terlepas dari apakah itu di dunia atau di akhirat, hukum kekekalan energi setara dengan hukum kekekalan perbuatan. Entah orang Budha menyebutnya karma dan orang islam menyebutnya kifarah, yang jelas konsep yang satu ini sama “Segala bentuk perbuatan baik maupun buruk akan mendapatkan balasan yang setimpal”. Entah itu ujian, peringatan, maupun hukuman (kafarah) yang kita dapatkan, kita harus senantiasa sabar dan ikhlas menerima serta harus berusaha menjadi hamba Tuhan yang lebih baik.
Wa’allohu A’lam :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar