Mungkin
banyak orang menganggap remeh seorang wanita. Mungkin banyak orang memandang
rendah seorang wanita. Mungkin juga beberapa orang suka mempermainkan wanita.
Tapi tidak banyak orang mengerti seperti apa wanita itu..
Sebuah
hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori menyebutkan bahwa sesungguhnya
wanita itu diciptakan dari tulang rusuk pria yang paling bengkok, yaitu tulang
rusuk paling atas. Oleh karena itu, bagi para pria, diharapkan untuk tidak
berlaku keras pada tulang rusuk tersebut jika tidak ingin patah. Karena bentuknya yang
bengkok, tentunya wanita memiliki banyak kekurangan dan kelemahan.
Dalam
sumber lain menyebutkan, bahwa Alloh menciptakan wanita dengan keadaan yang
paling sempurna. Meski wanita terlihat lemah, namun wanita mampu bekerja 18 jam
sehari dengan kedua tangannya dalam kehidupan rumah tangga. Padahal jam kerja
kantor normalnya hanya 8 jam/hari. Hebat kan… Meski begitu, masih banyak yang
mencibir bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu adalah sesuatu yang “rendah”.
Wanita
dengan segala kelemahannya, ternyata juga sebagai makhluk paling tangguh. Senjata
utamanya air mata. Baginya, air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan
kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, kebanggaan, serta mampu
mempesona pria.
Pada
umumnya, wanita mampu berkorban demi orang yang dicintainya, mampu berdiri
melawan kedhaliman, mampu mengatasi kesedihan, dan dia tahu bahwa sebuah ciuman
dan pelukan dapat menyembuhkan lukanya. Sungguh cinta yang tanpa syarat.
Di
balik kesuksesan seorang pria, pasti ada seorang wanita di belakangnya. Di
balik kehancuran pria, karena ada dua wanita di belakangnya. Wanita itu
memiliki sifat “malati” kata orang jawa. Seorang anak jika menyakiti hati orang
tua, terutama ibu, maka dia akan “kualat” katanya. Tidak hanya berlaku bagi
anak saja, seorang pria yang terus terusan menyakiti hati wanita dia juga akan
kualat. Believe it or not!! Boleh percaya boleh tidak.
Namun
dengan segala keistimewaan yang dimiliki wanita, seringkali ia lupa betapa
berharganya dia. Wanita menjadi sosok yang sangat kontroversional dalam setiap
sudut kehidupan. Tingkah lakunya, dandannya, pakaiannya, bahkan gerak tubuhnya,
selalu menjadi sorotan dari segala pihak. Tidak jarang kita temukan wanita yang
berambisi ingin “mengekplorasi” diri dan ingin di publikasikan. Apalagi dengan
adanya paham “emansipasi” yang mungkin banyak di salah artikan oleh mereka.
Tentu
saja wanita dan pria itu berbeda. Dari segi fisik dan mental jelas berbeda.
Tugas, kewajiban, dan peran keduanya juga berbeda. Pria memiliki tubuh yang
jauh lebih kuat dari wanita, supaya ia bisa menjadi pelindung dan yang menjaga
wanita. Bukan malah memanfaatkan dan merusak. Dengan tubuh kuatnya itu pula, ia
dapat mencari nafkah dan berjuang di jalan Alloh. Wanita dengan kelembutan
hatinya, ia dapat memeluk keluarganya, memacu semangat suaminya, membesarkan
anak – anaknya, menghapus kesedihan, dan menjaga kehormatannya. Alloh memuliakan
kedudukan wanita sebagai Ibu, karena hanya Ibu yang memiliki surga di bawah
telapak kakinya. Namun, tetap saja wanita menuntut tempat yang sama dengan
pria, bukankah itu berarti ia merendahkan kodratnya sendiri???
Menurut
bahasa jawa, wanita itu “wani ditata”, artinya berani ditata. Dengan kata lain,
wanita itu adalah insan yang hakikatnya sebagai “member”, yang ditata, bukan
sebagai “leader”, meskipun tidak sedikit wanita yang akhir – akhir ini menjadi
pemimpin atau ketua sebuah organisasi. Menurut kacamata saya, adanya emansipasi
wanita yang dicetuskan oleh pahlawan kita R.A Kartini bukan berarti wanita bisa
menjadi apapun atau menduduki tempat apapun yang ditempati pria. Tapi
emansipasi disini, wanita berhak memperoleh fasilitas yang sama seperti pria.
Berhak mendapatkan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan penghidupan yang
setara dengan pria. Wanita juga berhak menyampaikan aspirasi dan pendapatnya
sama dengan pria.
Dalam
agama islam, posisi imam dan pemimpin tetap dipegang oleh pria. Wanita tidak
diberi hak menjadi Imam sholat selama masih ada pria yang dewasa. Wanita juga
tidak bisa menjadi kepala keluarga selama ada suami sah yang masih hidup.
Wanita juga tidak memiliki kewajiban mencari nafkah. Namun demikian, pemegang
kendali dan pembimbing dalam rumah tangga tetap saja seorang wanita.
Wanita
itu, menikahi kekasihnya dengan harapan kekasihnya berubah, meskipun
kanyataannya ia tidak berubah. Wanita lebih suka memecahkan masalah dengan
perasaannya. Ia lebih suka menuruti perasaannya ketimbang menuruti akalnya.
Wanita lebih pandai mengenal diri dan lebih pandai menempatkan diri. Wanita
juga lebih detail dalam mengelola sesuatu. Sudah kodratnya wanita itu banyak
bicara, karena ia memang ingin selalu diperhatikan. Meskipun wanita itu lebih
disiplin dan taat pada aturan, sesungguhnya ia lemah ketika menghadapi rayuan,
sedikit dirayu ia sudah meleleh seperti es krim. Pria memang memiliki jiwa
kepemimpinan yang bagus dan layak jadi pemimpin, namun Manager terbaik di
manapun tetaplah seorang wanita J J
So,
teman – teman… marilah kita jalani kodrat kita masing – masing. Wanita boleh
saja berkarier, tapi jangan sampai menelantarkan keluarganya. Pria juga jangan
meremehkan pekerjaan wanita di rumah, dan jangan suka menyakiti hati wanita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar