Jumat, 14 Maret 2014

Wanita itu…





Mungkin banyak orang menganggap remeh seorang wanita. Mungkin banyak orang memandang rendah seorang wanita. Mungkin juga beberapa orang suka mempermainkan wanita. Tapi tidak banyak orang mengerti seperti apa wanita itu..
Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori menyebutkan bahwa sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk pria yang paling bengkok, yaitu tulang rusuk paling atas. Oleh karena itu, bagi para pria, diharapkan untuk tidak berlaku keras pada tulang rusuk tersebut  jika tidak ingin patah. Karena bentuknya yang bengkok, tentunya wanita memiliki banyak kekurangan dan kelemahan.
Dalam sumber lain menyebutkan, bahwa Alloh menciptakan wanita dengan keadaan yang paling sempurna. Meski wanita terlihat lemah, namun wanita mampu bekerja 18 jam sehari dengan kedua tangannya dalam kehidupan rumah tangga. Padahal jam kerja kantor normalnya hanya 8 jam/hari. Hebat kan… Meski begitu, masih banyak yang mencibir bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu adalah sesuatu yang “rendah”.
Wanita dengan segala kelemahannya, ternyata juga sebagai makhluk paling tangguh. Senjata utamanya air mata. Baginya, air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, kebanggaan, serta mampu mempesona pria.
Pada umumnya, wanita mampu berkorban demi orang yang dicintainya, mampu berdiri melawan kedhaliman, mampu mengatasi kesedihan, dan dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan lukanya. Sungguh cinta yang tanpa syarat.
Di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada seorang wanita di belakangnya. Di balik kehancuran pria, karena ada dua wanita di belakangnya. Wanita itu memiliki sifat “malati” kata orang jawa. Seorang anak jika menyakiti hati orang tua, terutama ibu, maka dia akan “kualat” katanya. Tidak hanya berlaku bagi anak saja, seorang pria yang terus terusan menyakiti hati wanita dia juga akan kualat. Believe it or not!! Boleh percaya boleh tidak.
Namun dengan segala keistimewaan yang dimiliki wanita, seringkali ia lupa betapa berharganya dia. Wanita menjadi sosok yang sangat kontroversional dalam setiap sudut kehidupan. Tingkah lakunya, dandannya, pakaiannya, bahkan gerak tubuhnya, selalu menjadi sorotan dari segala pihak. Tidak jarang kita temukan wanita yang berambisi ingin “mengekplorasi” diri dan ingin di publikasikan. Apalagi dengan adanya paham “emansipasi” yang mungkin banyak di salah artikan oleh mereka.
Tentu saja wanita dan pria itu berbeda. Dari segi fisik dan mental jelas berbeda. Tugas, kewajiban, dan peran keduanya juga berbeda. Pria memiliki tubuh yang jauh lebih kuat dari wanita, supaya ia bisa menjadi pelindung dan yang menjaga wanita. Bukan malah memanfaatkan dan merusak. Dengan tubuh kuatnya itu pula, ia dapat mencari nafkah dan berjuang di jalan Alloh. Wanita dengan kelembutan hatinya, ia dapat memeluk keluarganya, memacu semangat suaminya, membesarkan anak – anaknya, menghapus kesedihan, dan menjaga kehormatannya. Alloh memuliakan kedudukan wanita sebagai Ibu, karena hanya Ibu yang memiliki surga di bawah telapak kakinya. Namun, tetap saja wanita menuntut tempat yang sama dengan pria, bukankah itu berarti ia merendahkan kodratnya sendiri???
Menurut bahasa jawa, wanita itu “wani ditata”, artinya berani ditata. Dengan kata lain, wanita itu adalah insan yang hakikatnya sebagai “member”, yang ditata, bukan sebagai “leader”, meskipun tidak sedikit wanita yang akhir – akhir ini menjadi pemimpin atau ketua sebuah organisasi. Menurut kacamata saya, adanya emansipasi wanita yang dicetuskan oleh pahlawan kita R.A Kartini bukan berarti wanita bisa menjadi apapun atau menduduki tempat apapun yang ditempati pria. Tapi emansipasi disini, wanita berhak memperoleh fasilitas yang sama seperti pria. Berhak mendapatkan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan penghidupan yang setara dengan pria. Wanita juga berhak menyampaikan aspirasi dan pendapatnya sama dengan pria.
Dalam agama islam, posisi imam dan pemimpin tetap dipegang oleh pria. Wanita tidak diberi hak menjadi Imam sholat selama masih ada pria yang dewasa. Wanita juga tidak bisa menjadi kepala keluarga selama ada suami sah yang masih hidup. Wanita juga tidak memiliki kewajiban mencari nafkah. Namun demikian, pemegang kendali dan pembimbing dalam rumah tangga tetap saja seorang wanita.
Wanita itu, menikahi kekasihnya dengan harapan kekasihnya berubah, meskipun kanyataannya ia tidak berubah. Wanita lebih suka memecahkan masalah dengan perasaannya. Ia lebih suka menuruti perasaannya ketimbang menuruti akalnya. Wanita lebih pandai mengenal diri dan lebih pandai menempatkan diri. Wanita juga lebih detail dalam mengelola sesuatu. Sudah kodratnya wanita itu banyak bicara, karena ia memang ingin selalu diperhatikan. Meskipun wanita itu lebih disiplin dan taat pada aturan, sesungguhnya ia lemah ketika menghadapi rayuan, sedikit dirayu ia sudah meleleh seperti es krim. Pria memang memiliki jiwa kepemimpinan yang bagus dan layak jadi pemimpin, namun Manager terbaik di manapun tetaplah seorang wanita J J
So, teman – teman… marilah kita jalani kodrat kita masing – masing. Wanita boleh saja berkarier, tapi jangan sampai menelantarkan keluarganya. Pria juga jangan meremehkan pekerjaan wanita di rumah, dan jangan suka menyakiti hati wanita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar